Apa rasanya kerja pulangnya ke rumah orang
tua? Itu yang selalu aku ucapkan di dalam hati setiap ketemu temen yang kerja dan
emang rumahnya di Jakarta. Dan sekarang aku sedang liburan seminggu di rumah
orang tua. Lalu muncul lagi pertanyaan itu, gimana ya kalau gua kerja pusing
tapi balik ke rumah orang tua. Apa jadi beda ya, bisa hilang pusingnya? Tempat kerja
aku sama rumah orang tua jauh. Ada 100km lebih. Di Jakarta aku tinggal di
kos-kosan sempit seadanya. Kalau mau yang bagus keluar uangnya lebih banyak,
aku lebih milih keluar uang sedikit supaya bisa dialokasikan ke tabungan
pribadi. Mungkin karena kondisinya yang sepi karena tinggal sendiri dan
tempatnya juga kurang bagus, sempit, seadanya, terutama masalah pencahayaan. Kayaknya
itu yang bikin inspirasi jarang datang. Kurang produktif sih. Sekarang, baru
beberapa hari di rumah orang tua udah bikin 2 video. Kayaknya gampang banget
inspirasi datang, bengong dikit eh kepikiran bikin sesuatu. Atau mungkin ini
efek tempatnya aja yang enak buat bikin-bikin video. Ya rumah di kampung mah
luas, bertingkat lagi, halaman ada pekarangan belakang ada, saung ada, kolam
ikan ada, sawah ada, sungai ada, edan segala ada.
Apapun faktor penyebabnya, aku syukuri aja
akhirnya bisa ngerasain lagi berkarya. Dari mulai memikirkan konsep, eksekusi, sampai
publikasi, hingga mendapat feedback walaupun besar-besar, tapi setiap apresiasi
itu aku syukuri dan aku senang akan itu. Yang menarik dari dua video yang udah
aku buat adalah aku membuatnya nggak pakai laptop untuk proses editing, tapi modal
iPhone aja dengan iMovie-nya. Dan voila! Bisa juga. Ternyata kalau udah menguasai
fitur atau function-functionnya bisa juga bikin video sederhana tapi kualitas
bersaing. Mungkin ke depannya aku bakal makin sering lagi buat video pakai iPhone.
Oiya yang bertanya video-video apaan si?
Bikin video itu dikumahakeun maksudna? Jadi yang gue buat itu sebenernya film. Cuma
kalau pakai istilah film nanti ada yang menganggap rendah karena mereka overestimate
dengan kata “film”. Jadi ya yang aku lakukan itu filming dengan konsep yang benar-benar
dipikirkan dan disusun dengan sistematis. Sederhanya kayak bikin film pendek. Dan
video-video yang gue maksud itu gue post di Instagram akunnya @rjunjunan coba aja
kalau ada yang penasaran bisa dicek deh. Kenapa nggak posting ke YouTube?
Soalnya aku bikinnya terlalu pendek, cuma 1 menit. Buat YouTube itu terlalu
kecil menurut aku, lebih baik kalau aku punya rencana membuat video yang lebih panjang
dan besar baru aku upload di YouTube nama channelnya Junjunan. Kendala lainnya adalah,
karena YouTube itu platform video sharing yang gede, jadi gue malu kalau upload
resolusi yang nggak bagus, kelihatan jelek banget pas full screen. Pengennya kasih
yang maksimal, resolusi tinggi, otomatis ukurannya filenya juga tinggi, nah itu
dia harus uploadnya nyari WiFi dulu.
Kenapa sih gue bikin video begini? Kurang
kerjaan? Ini hidup gue. Gue udah jauh mikirnya, karena udah ngerasa ketika gue
bikin video itu gue hidup. Dan yang gue lakuin itu menjalani kehidupan kok. Dan
gue suka saat-saat produktif, kayak ngejaga jiwa muda yang terus terasah
kreatifitasnya. Gue nggak mau ya jadi om-om yang ngga produktif dan ngga
kreatif, yang kerjaannya nyebar meme atau lawakan garing di group group wassap.
Dan kalau gue lagi dikasih waktu rileks, gue rasa harus dimanfaatin semaksimal
mungkin buat ngelakuin hal yang gue suka. Jangan ngelakuin hal yang nggak disukain
terus selama 8 jam 5 hari. Pokoknya banyak sekali manfaatnya untuk selalu tetap
produktif itu karena melakukan aktivitas yang positif dan mencegah untuk
melakukan hal negatif, supaya jadi manusia yang baik.