Kamis, 28 Desember 2017

Novel Yang Bercerita Soal Kebebasan

Baru aja selesai baca novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari. Buku itu menceritakan tentang perjuangan meraih kebebasan. Seru juga bacanya, bisa dimengerti dan sampai pesannya, tanpa berbelit-belit. Penulisnya itu menggunakan cerita fiksi untuk membentuk suatu opini dan mengatakan suatu ideologi. Beberapa cerita yang mirip dengan cerita nyata ditampilkan, tentunya terkait kebebasan atau perampasnya yaitu penindasan. Salut. Artinya penulis adalah seseorang yang paham realita, yang inderanya peka, dan sudah berbenturan dengan dunia nyata yang tidak jarang jauh berbeda dengan teori-teori pelajaran atau kata-kata manis yang diajarkan guru atau orang tua. Ya saya belum cari tahu siapa penulisnya, tapi buku yang saya baca ini pemenang Khatulistiwa Award 2012. Ini juga buku minjem punya pacar. Inilah untungnya punya pacar yang suka baca juga😝

Di buku ini berkali-kali kata kebebasan itu disebut-sebut. Penulis seperti sangat memperhatikan kebebasan. Membuat aku mempertanyakan sendiri, Apa sih? Kebebasan-kebebasan? Gue biasa aja. Nggak pernah kepikiran merasa nggak bebas. Bentar deh, kebebasan sendiri itu apa? Sampai mana? Apa batasnya? Kayaknya aku nggak merasa hilang kebebasan karena harus terus mencuci seminggu minimal dua kali. Nggak merasa hilang kebebasan karena harus kerja untuk dapat uang. Harus sopan sama klien, harus sopan sama dosen dll. Jadi apakah ada bagian diriku yang merasa tidak bebas? Apa jangan-jangan ketidakbebasan menjadi wajar hingga aku nggak menyadari kalau aku hilang kebebasan😱

Biarpun taglinenya "Apa itu kebebasan?" Aku lebih ingin menyoroti soal "ketidakadilan"-nya. Mungkin kebebasan dengan keadilan ada hubungannya. Adalah ketika yang berkuasa bisa menentukan hukum versi dia untuk mengambil kebebasan seseorang untuk mendapatkan keadilan. Oh iya anyway ini buku berlatar tahun 90an, pokoknya masih jaman Soeharto. "Piye kabare? Masih enak jamanku to?", ndasmu. Jadi pantes kan? Makannya banyak cerita soal ketidakadilan. Misalnya kasus Marsini yang hilang setelah meminta kenaikan upah. Kasus pelaku pengeroyok Sasana yang kebal hukum karena anak jendral. Kasus Jaka yang dipotong gaji karena memecahkan produk di pabrik tanpa ada inspeksi kejadian dahulu, dan lain-lain. Ya itulah Indonesia pada masa itu. Betapa tidak masuk akalnya hukum pada jaman itu. Orang dituduh PKI aja bisa sampai dihukum. Aneh. Dan ketidakadilan itu warisannya masih ada sampai sekarang di Indonesia yang katanya sudah reformasi ini.

Ada loh di tempat kerja aku sekarang, tapi ini cerita waktu dulu, waktu masih bentuknya belum jadi multinasional, masih lokal, manajemennya lokal dan feodal. Mulai dari cerita karyawan yang dipecat gara-gara nggak nyapa😆 Sampai OB yang harus bayar sendiri pesenan makanan bos gara-gara salah pesan😆 Bos yang kerjanya cuma duduk terus gaji gede😆 Aduh ini malu-maluin tapi tiap dengernya suka kepengen ngakak. Anjir ini tempat apaan😭 Pokoknya ketidakadilan yang rasanya tidak masuk diakal ini tidak terbatas di masyarakat umum tapi di dalam komunitas privat seperti perusahaan aja ada. Warisannya jaman pak Harto, yang tidak wajar jadi wajar yang wajar jadi tidak wajar. Akal sehat kebolak-balik. Membuat orang takut untuk menyuarakan kebenaran karena dibungkam oleh kekuasaan dan kekerasan.

Kalau kita ingin melakukan sesuatu dan terhalang atau terbatasi oleh sesuatu yang membuat kita sulit untuk melakukannya, bukan berarti itu ketidakbebasan. Itu hanya masalah atau rintangan yang harus kita pikirkan cara untuk melewatinya. Soalnya kebetulan nih gue punya masalah itu. Sulit banget ngadepinnya. Membuat pergolakan batin. Mungkin ini terdengar naif, tapi kalau udah ngerasa mentok ngadepin masalah ujung-ujungnya yang harus gue lakukan adalah husnuzhon atau berprasangka baik sama Allah dan sambil berdoa. Nah kan jadi curhat. Yaudah doain ya semoga masalah ini cepat kelar dan ditunjukkan sama Allah jawabannya. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar